menulis dengan jernih

  • Cinta tak Lantas Jodohmu

    Amel langsung senyap. Tak ada suara dari mulutnya. Tiba-tiba kudengar ia sesunggukan. Kuangkat kepala. Oh Tuhan. Kok dia yang malah menangis? Meskipun diriku lelaki, tetapi soal patah hati, lelaki juga punya hak yang sama untuk menangis bukan?

  • Pengasuh Anak Kami

    Aku dan suami akhirnya memutuskan mengambil pembantu yang dapat mengasuh anak ketika kami sedang sama-sama bekerja. Dari info seorang teman, kami dapat pengasuh yang cocok. Usianya masih muda, sekitar sekitar 20 tahunan. Namanya Ipah.

  • Dear Mantan

    Rasaku padamu. Saat melihatmu kembali. Telingaku bisa sekali lagi mencecap rindu, di sela-sela suaramu. Tubuhmu. Juga bau parfum yang semerbak dari busanamu. Tetap sebagaimana yang dahulu itu. Membuat gerbang silam lebar terbuka.

  • Salam Ala Kucing

    Aneh juga. Masak kucing bisa mengucap salam? Tetapi begitulah adanya. Kucing juga makhluk yang punya rasa sosial. Jika terlihat pendatang baru, mereka saling uluk salam. Kulunuwum sek rek...

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label dawuhkiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dawuhkiai. Tampilkan semua postingan

5.29.2020

“Mandiri Menyambut Datangnya Panggilan Kematian’

Kapan datangnya kematian tidak ada yang mengetahui, sebab ia adalah rahasia Allah Swt. Karena itu, kematian harus dipersiapkan. Dengan demikian, saat maut benar-benar telah datang, kita bisa menyambutnya dengan sebaik-baik penyambutan.

Perlu diketahui bahwa bagaimana seseorang itu menyambut kematian, sangat tergantung kepada kebiasaan-kebiasaan kita selama menjalani kehidupan di dunia. Seseorang yang memiliki kebiasaan memaki-maki orang, maka ketika detik-detik ajal telah menjemput ia akan melakukan kebiasaan-kebiasaan tersebut. Hal ini disampaikan oleh Ustad Prof. Dr. KH. Ali Aziz, MA dalam Pengajian Akbar di Masjid Cheng Hoo.

Sebaliknya, jika sepanjang perjalanan hidupnya ia memiliki kebiasaan yang baik, seperti kebiasaan bertasbih, berbuat baik, berdzikir atau bahkan punya kebiasaan membaca ayat-ayat Al-Quran, maka demikianlah pula kelak saat ajal datang menjemput. Ia akan menjemputnya dengan kebiasaan-kebiasaan baik tersebut, di mana ia akan spontan mengisinya dengan berdzikir atau membaca ayat Al-Quran, katanya.

Ustad Ali Aziz lantas menceritakan salah satu pengalamannya ketika sedang menjenguk seorang pasien di sebuah rumah sakit. Ketika ajalnya menjemput dan kedua matanya mulai menutup, anehnya, dari mulutnya ia masih sempat-sempatnya membaca sebuah surat dalam Al-Quran, yaitu surat Yasin.

Rupa-rupanya, semasa beliaau masih hidup, membaca surat Yasin telah menjadi kebiasaannya sehari-hari. Hal ini ternyata tetap terbawa saat ajal atau kematian menjemputnya, katanya.

 

Melatih Kebiasaan

Setiap hamba tentunya berharap kebaikan dalam menghadapi ajal, sebagaimana seorang pasien yang mati dalam keadaan membaca surat Yasin. Tetapi tentu, tak setiap orang mengetahui langkah-langkah seperti apa untuk mempersiapkan. Menurut Ustad Ali Aziz, pertama-tama yang harus dilakukan adalah menumbuhkan kebiasaan sehari-hari.

Sebagaimana pasien yang wafat dalam keadaan membaca surat Yasin tadi, maka demikianlah kita. Marilah mulai dari sekarang kita biasakan untuk sering-sering baca yasin. Jadikanlah surat Yasin sebagai bacaan sehari-hari. Untuk apa?  Agar sewaktu kita mau meninggal, kebiasaan membaca surat Yasin tersebut dapat muncul sendiri, katanya. 

Ustad Ali Aziz melanjutkan, selain membiasakan sehari-hari membaca surat Yasin, bisa juga mensehari-harikan membaca kalimat-kalimat tauhid. Kita bisa melafalkan kalimat-kalimat tersebut di mana pun kita berada dan beraktivitas. Dengan demikian, saat ajal datang, spontanitas mulut kita pun melafalkan dzikir-dzikir kalimat tauhid.

Lakukan dalam aktivitas apapun kita. Ketika sedang jalan-jalan pagi, jadikanlah irama jantung berderak kalimat tauhid. Ketika sedang memasak, jadikanlah irama jantung berderak kalimat tauhid. Ketika sedang kumpul-kumpul, jadikanlah irama jantung berderak kalimat tauhid, katanya.

Di zaman sekarang yang serba gadged, lanjutnya, banyak orang yang mengabaikan waktu, yaitu dengan hanya menghabiskan waktu dengan gadgednya. Bahkan, ketika sedang kumpul-kumpul pun, masing-masing sibuk dengan gadgednya. Padahal, waktu-waktu tersebut bisa dimanfaatkan sedemikian baik dengan banyak berdzikir.

Jika kita memiliki waktu-waktu kosong, mari isi dengan membaca surat Yasin, kalimat-kalimat tauhid. Jangan lupa kalimat lailahaillah itu maknanya lebih besar dari alam semesta dan  isinya, katanya.

Sisi lain yang sangat penting dari melatih kebiasaan-kebiasaan beribadah di mana saja tersebut, jelas ustad Ali Aziz, tak lain agar kita memiliki kemandirian dalam menghadapi kematian kapan pun datangnya. Kita tak lagi menggantungkan diri pada orang-orang terdekat kita untuk mengingatkan atau mengajak kita untuk melafalkan kalimat tauhid.

Sebab apa? Kapan waktu kematian tidak ada yang tahu, kecuali Allah saja, katanya.  

 

 

 

Share:

KH. Zainuddin Husni , ‘Jalan Takwa yang Hakiki’

Keimanan dan ketakwaan seorang hamba atas Tuhannya sesungguhnya bisa dirasakan melalui terjaganya lisan maupun perbuatan. Buahnya adalah rasa aman dan ketentraman di mana pun lingkungan ia berada.

Kondisi demikian hanya bisa dicapai jika seorang hamba mampu mengamalkan ritual-ritual ibadah secara kaffah atau bersifat totalitas. Hanya saja, sebagian orang, adakalanya melakukan ritual ibadah hanya melibatkan lahiriahnya semata, tetapi batinnya tidak ikut diikutsertakan. Walhasil keberkahan ibadah bisa tidak berbekas

 “Misalnya, ada di antara kita yang menjalankan ritual-ritual ibadah secara istiqamah, shalat wajib maupun sunnahnya lengkap, namun lisan maupun perbuatannya masih saja tetap senang menjatuhkan orang lain. Masih saja suka membicarakan aib orang lain di hadapan yang lainnya,” demikian dikemukakan oleh KH. Zainuddin Husni dalam pengajian akbar dwi bulanan yang rutin digelar takmir Masjid Cheng Hoo.  

Ditambahkan Kiai Zainuddin, hal tersebut bisa terjadi dikarenakan terjebak hanya fokus melakukan ritual-ritual keagamaan, tanpa merasa perlu mendalami artinya dalam kehidupan yang nyata. Karena itu, adalah sangat penting untuk menyelami ajaran agama secara menyeluruh.

“Sehingga, kita tidak hanya paham kulit luarnya saja, tetapi juga dapat memahami isi atau maknanya sekaligus,” katanya.

Karena itu, tambahnya, setiap muslim harus mau belajar untuk menambah ilmu-ilmu agama sampai menemukan inti sarinya. Menurutnya, ada banyak jalan agar antara ritual ibadah bisa menyatu dengan kualitas maknanya. Di antaranya adalah dengan menghadiri majelis-majelis taklim atau dekat dengan para ulama, sehingga wawasan spiritual keagamaan pun semakin bertambah. 

“Dengan demikian, selain menguasai kandungan maknanya, kita pun dapat mengetahui bagaimana cara untuk mengamalkannya secara tepat dan benar dalam kehidupan nyata,” katanya.

Kiai Zainuddin lantas mencontohkan nilai-nilai dasar yang diberikan oleh Allah terhadap diri manusia yang memiliki sifat fitrah lupa dan bisa melakukan kesalahan. Di sisi lain, hanya Allahlah yang menyatakan memiliki kesempurnaan tanpa cela.

“Bahwa yang namanya manusia, adakalanya ia memang tidak bisa luput dari kesalahan atau kekeliruan. Melihat orang lain berbuat keliru, kita tidak lagi terlalu gampang mengeluarkan ucapan yang dapat melukai atau menjatuhkan. Menyadari bahwa Allahlah yang memiliki kesempurnaan maka lisan maupun perbuatan dengan sendirinya akan terjaga dari hal-hal yang jelek,” katanya.       

Maka, lanjutnya, ketika seorang hamba sedang menghadap kepada Tuhannya dalam kewajiban shalat lima waktu, maka harus pula melibatkan pikiran maupun batinnya yang mana harus sepenuhnya tunduk dan ikhlas, memasrahkan segalanya untuk mengakui sifat-sifat kehambaannya yang lemah dan tiada daya kepada yang Mahakuasa.

“Hadirkan dan libatkan hati yang ikhlas dan niat yang tulus, yaitu hanya demi meraih ridhanya Allah. Cintanya Allah. Dan benar-benar mengharap pengampunannya Allah atas semua kelemahan kita sebagai seorang hamba. Di hadapan Allah, jiwa-raga kita tunduk atas segala kemaha-besaranNya dalam setiap peristiwa kehidupan,” katanya. 

Kesadaran sebagai seorang hamba yang lemah dan bisa melakukan kekeliruan kapan saja tanpa disengaja, jelas Kiai Zainuddin, selanjutnya akan mampu menimbulkan sifat dan sikap rendah hati dan mudah memaafkan kepada siapa saja, tidak memandang pangkat atau kedudukan. Sebab di hadapan Allah, semua makhluk sama derajatnya.

“Nah, sebagian kita, masih memandang ritual ibadah dari segi lahiriahnya. Padahal yang Allah nilai, terutama adalah keterlibatan batin kita dalam beribadah. Sikap kita dalam sehari-hari. Maka, jika saja di saat shalat misalnya, tetapi batin kita tidak benar-benar tunduk dan ikhlas melakukannya. Makanya, wajar jika manfaat shalat tidak menimbulkan bekas sama sekali,” katanya.

Share:

3.06.2020

Mbah Maksum Lasem; Wajah Moderat Ulama Salaf

Ulama adalah sosok panutan. Ia menjadi panduan bagi semua komponen masyarakat. Jiwanya harus mampu menjadi tempat berlabuh bagi hamba-hamba Tuhan yang berlainan. Mulai dari baik dan mungkin yang masih berada di jalan yang keliru. Jiwanya universal. Tidak saja terbatas pada satu kelompok, namun juga secara menyeluruh bagi semua umat lintas golongan.

Sebagaimana terlihat akhir-akhir ini, sosok ulama menjadi ruang sempit dengan semata berpihak kepada kelompok masing-masing. Hal ini tampak, misalnya dalam pengabaian umat agama lain yang dianggap tidak seiman dan masuk dalam definisi “yang lain” dalam analisa Hasan Abu Nasr. Kasus-kasus perusakan tempat ibadah adalah kasus paling sering terjadi. Dalam sosial, kebaikan terbatas hanya pada umatnya sendiri.

Buku biografi yang berjudul, Mbah Maksum Lasem: The Authorized Biography of KH. Ma'shum Ahmad, mengangkat sosok ulama salaf yang diperkirakan lahir pada 1290 H/1870 M di daerah Lasem. 

Tidak sebanding dengan sebutan ulama salaf-tradisional yang disandangnya, ulama satu ini memiliki pemikiran yang modern yang jauh ke depan pada masanya. Ada dua pemikiran unik dalam pemikirannya. Pertama, pemikirannya di dunia politik. 

Secara internal NU, misalnya, kasus perselisihan politis antara kelompok Idham Cholid yang cenderung memihak Suharto, dan kelompok Subhan ZE yang bersikap oposisi. Bagi Kiai Maksum, manuver apapun justru akan merusak umat, sehingga keduanya dirangkul dan dicarikan jalan tengahnya. 

Dalam praktik politik praktis, hal ini tampak jelas dalam kasus rawan mengenai PKI. Dia tidak serta merta menghukum oknum PKI sebagai oknum jahat atau baik. Menurutnya, adakalanya tampilan luar jahat, namun hatinya mulia. Ini terbukti, ketika datang salah seorang tokoh PKI sowan. Dia tidak menolak, namun menghadapi secara dialog mencari kebenaran.

Kedua, di bidang sosial dan kemanusiaan. Dalam internal NU adalah kasus tarekat yang marak berkembang. Kiai Maksum tidak memilih masuk tarekat mana pun. Ketika ditanya, dia beralasan sudah punya tarikat sendiri, yaitu tarikat Nabi, mencintai anak yatim dan Fakir miskin. Ini menjadi kritiknya terhadap dinamika tarekat yang cenderung meninggalkan sosial. 

Sedangkan di eksternal Islam, tampak dalam hubungan sosial mbah Maksum dengan umat nonmuslim. Pada 1970-an, mbah Maksum menghadiri suatu undangan umat Tionghoa dalam Tentu saja, pada masa itu dianggap langkah kontraproduktif karena dinilai menyimpang dari ajaran Islam. Seperti diketahui, masa itu pluralitas agama di saat itu ditentang habis. Namun, bagi mbah Maksum apapun warna etnis, agama atau pun golongan, semuanya kembali pada fitrah sebagai sesama manusia. 

Buku biografi ini cukup mewakili rasa haus setiap orang terhadap tafsir lain yang lebih manusiawi dan elegan dalam beragama. Hal ini tentu saja sangat relevan dengan kondisi saat ini, di mana perkembangan agama lebih menegaskan simbol ketimbang nilai substansial yang menjadi tujuan agama itu sendiri. Akibatnya, agama menjadi sangat dangkal dan sempit. Bahkan, tak jarang justru menjadi masalah itu sendiri di tengah-tengah masyarakat.

Setidaknya buku ini menawarkan nilai-nilai universal agama, yaitu; politik bukanlah sesuatu yang tabu selagi masih dalam koridor mengangkat kaum papa ke level atas. Dan bahwa agama pada dasarnya melampaui di luar penganut itu sendiri sehingga memanifestasikan nilai universal Islam sebagai rakhmat bagi seluruh alam. []
Share:

Mengenang Sang Guru, KH. Aziz Masyhuri


Inspirasi dan Keteladanan sang Guru


"Belakangan ini, waktu-waktunya beliau lebih banyak dihabiskan untuk membaca dan terus menulis. Saya cukup senang beliau bisa lebih banyak istrahat di rumah..." Nyai Hj. Azizah Aziz Bisri


Sore belum benar-benar mereda, saat tiba di Pondok Pesantren Al-Aziziyah. Sejumlah alumni juga sudah berkumpul di masjid. Ini adalah kali kedua saya sowan ke Yai Aziz Masyhuri di bangunan pesantrennya yang baru. Sowan yang pertama kali adalah di saat ada gelar muktamar NU tahun sebelumnya. Berhubung beliau masih istirahat, kami ditemui oleh bu Nyai Aziz. Kami pun terlibat obrolan lepas sampai lebih dua jam lamanya.

Sebanyak apapun obrolan yang beliau bincangkan, hanya satu ucapan beliau yang betul-betul paling saya rindukan sejak masih  di Madura dan belum menyentuh tanah Jawa, yaitu soal kecintaan beliau dalam soal menulis dan berkarya. "Belakangan ini, waktu-waktunya beliau lebih banyak dihabiskan untuk membaca dan terus menulis. Saya cukup senang beliau bisa lebih banyak istrahat di rumah..." begitu Nyai Aziz bercerita. Itu adalah ucapan yang melebihi jimat paling keramat bagi saya sendiri.

Barangkali cukup wajar jika saya selalu rindu hobi Yai yang satu ini. Wajar juga jika sejak awal masuk jadi santri, hal yang mula-mula menarik perhatian saya adalah kekhusyukan dan kekuatan beliau untuk duduk lama, baik di rumah beliau, maupun saat sedang menghabiskan waktu di ruang perpustakaan asrama. Membaca dan membaca. Menulis dan terus menulis dengan khidmatnya. Terasa pemandangan sepele, tetapi bagi saya yang sejak kecil suka menulis, tentu itu lebih dari sekedar apa yang kelihatan.

Sekalipun senang menulis sejak usia Sekolah Dasar (SD), tetapi sejauh itu saya belajar menulis secara naluriah saja, alias otodidak. Tidak ada yang menyuruh atau memberi bimbingan. Sejauh itu, saya menulis tidak lebih hanya sebagai kepuasan saat bisa menjelaskan sesuatu dalam bentuk tulisan. Makanya, ketika bisa menemukan sosok yang bisa dijadikan sebagai sandara inspirasi, bak menemukan harta karun tak ternilai.  

Untuk pertama kalinya, saya merasa menemukan sosok idola yang mampu memberi kekuatan inspirasi. Sejak saat itu, saya mulai menyadari betapa menulis itu bukan hanya sambil lalu. Tetapi suatu warna hidup yang menakjubkan. Hal itu juga yang memunculkan tekad dan semangat agar lebih serius mengasah kemampuan. Sejak awal saya tidak pernah berpikir bahwa menulis itu butuh ketekunan, harus terus belajar dan harus melahirkan karya sebagai puncak kepuasan.

Ketika kuliah, tekad tersebut menggerakkan saya untuk terjun di dunia jurnalistik dan selanjutnya mencoba sensasi bekerja di penerbitan. Walau berkali-kali gagal menerbitkan karya, tetapi selalu saja muncul hasrat untuk terus mengulang tekad untuk terus mengalirkannya kembali. Sampai benar-benar berhasil. Apalagi jika mengingat betapa nikmatnya jika sebuah tulisan sudah bisa menjelma menjadi sebuah buku, dan dibaca banyak orang.

Meskipun belum melahirkan karya, bagaimanapun saya tidak pernah terpikir, kelak bakal betul-betul serius menekuni sesuatu yang awalnya hanya hobi saja itu.  Tetapi cukup lega juga. Sekalipun belum menghasilkan karya, minimalnya tekad tersebut bisa mengantarkan saya ke tempat yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya sebagai orang yang mencinta dunia tulisan sejak kecil. Berkat dorongan itu, saya bisa menjadi editor dan terjun serius di dunia jurnalistik.

Mungkin ada benarnya juga. Untuk meraih mimpi, kita memerlukan seseorang yang mampu menjadi alat penggerak. Penggerak motivasi dan inspirasi. Karena itu, ketika mendengar cerita Nyai Aziz tentang aktivitas menulis Yai Aziz yang tidak jua lekang oleh usia, tiba-tiba seperti muncul ledakan dalam pikiran. Membayangkan seberapa nikmat saat-saat beliau melewati tiap-tiap tulisan catatan yang dirangkai melalui kedalaman wawasan dan inspirasi. Terbayang kembali masa-masa awal nyantri di Denanyar.


Terima kasih kiai. Telah berhasil memberikan jimat keramat, yang membawa dentuman pada tangan, jari-jemari, pikiran dan  pena yang biasa kutoreh. Memunculkan keyakinan, bahwa menulis itu jangan asal sambil lalu. Harus terus diasah, dan dikembangkan. Karena itu adalah bagian dari anugrah istimewa dari yang Mahakuasa. Selamat jalan guru. Semoga yang Mahacinta memberikanmu tempat terbaik di alam sana. Alfatihah.

Share:

Terbaru

Label

Terbaru

Unordered List

Pages

Sample Text

Theme Support